Sangiran-ku Sayang, Sangiran-ku Yang Malang

Kawasan situs Sangiran menjadi salah satu objek wisata ilmiah yang sangat menarik untuk kami kunjungi dalam rangka menambah wawasan kami sebagai guru bahasa Indonesia untuk orang asing. Kami, ibaratnya duta bangsa yang memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia sehingga selayaknya dan sepantasnya mengenal betul sejarah keberadaan manusia Indonesia. Konon, fosil nenek moyang manusia Indonesia ditemukan di Sangiran yang sudah ditetapkan sebagai warisan dunia No. 593 oleh Komite World Heritage UNESCO pada tahun 1996.

Dengan harapan besar untuk menggali sejarah nenek moyang sekaligus menyaksikan fosil manusia Pithecanthropus Erectus (manusia Jawa) dan binatang-binatang yang hidup pada Kala Pliosen Akhir hingga akhir Pleistosen Tengah, yaitu sekitar 2 juta tahun hingga 200.000 tahun yang lalu, kami menuju ke Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah yang kami tempuh selama kurang lebih tiga jam dari kota Jogja. Namun sayang, semangat itu menjadi pudar ketika melihat kondisi museum yang nampak tidak terawat dengan baik, meskipun bangunan baru sedang dalam proses pembangunan. Entah karena masih dalam perbaikan ataupun penambahan bangunan baru, kami merasa kecewa tidak menyaksikan banyak fosil-fosil yang katanya berjumlah 13.086 koleksi. Meskipun demikian, ada beberapa fosil yang bisa kami lihat sehingga bisa sedikit menghilangkan kekecewaan kami. Tidak ada penjelasan apa pun dari para petugas ataupun staf di sana mengenai situs bersejarah tersebut. Alasan yang mereka kemukakan adalah bahwa kami tidak memberitahukan kedatangan kami sebelumnya kepada mereka dan waktu telah menunjukkan pukul 14.00 WIB, sehingga tidak tersedia staf maupun petugas yang bisa menjelaskan.

Kami juga tidak diperkenankan untuk melihat lapisan-lapisan tanah ditemukannya fosil-fosil tersebut. Alasannya adalah karena konsidi lapangan yang becek dan melewati tanah pekarangan orang lain sehingga mengganggu privasi penduduk. Apapun alasannya, kami sangat kecewa dengan pihak museum. Seharusnya, kepada kami sebagai pengunjung disajikan informasi yang cukup mengenai koleksi yang dimiliki oleh museum yang nantinya akan kami bagikan kepada orang-orang dari mancanegara.

Namun, Sangiran masih menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi. Tempat yang menyimpan misteri manusia kera yang konon pernah mendiami pulau Jawa ini. Yang penting sekarang adalah bagaimana Pemda Jawa Tengah, terutama Bupati Sragen mengelola wilayah ini. Jadikanlah tempat yang telah menjadi warisan dunia sebagai obyek wisata ilmiah yang bisa dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Kami sebagai warga negara Indonesia berhak atas pengetahuan yang bernilai itu. Jangan sampai, kami belajar tentang sejarah nenek moyang kami sendiri dari negara lain.

Lebih jelasnya, Anda bisa mengunjungi website http://id.wikipedia.org/wiki/Sangiran.

~ oleh danuwibowo di/pada Desember 9, 2007.

2 Tanggapan to “Sangiran-ku Sayang, Sangiran-ku Yang Malang”

  1. Sayang sekali ya situs dunia semacam sangiran itu dibiarkan terbengkalai begitu saja.

  2. Sungguh, bangsa ini dikaruniai Tuhan dengan berbagai ragam keindahan alam, flora dan fauna namun kita masih belum bisa memanfaatkannya secara optimal untuk kesejahteraan rakyat.

    Kita punya Borobudur, Prambanan, Mendut, Bromo, Danau Toba, Kelimutu, Komodo, Tarsius, Sangiran dll.

    Ayo, pak Wacik – tunjukkan kepemimpinan Anda untuk menjadikan anugerah Tuhan ini untuk mensejahterakan rakyat Indonesia

Tinggalkan Balasan