Habiranda: Benteng Terakhir Kesenian Wayang

•Desember 16, 2007 • & Komentar

Bagi mereka yang hidup di zaman wireless ini, mungkin banyak yang tidak mengenal apa itu Habiranda? Habiranda adalah sekolah.  Lalu, sekolah macam apa? Yang jelas Habiranda bukan sekolah berasrama atau boarding school bertaraf internasional yang mulai banyak bertebaran di Indonesia, bukan pula sekolah online yang menawarkan gelar akademis melalui belajar jarak jauh atau distant learning. Habiranda adalah sekolah untuk para dalang yang dibuka oleh Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat pada tahun 1925 pada masa pemerintahan Hamengku Buwana VIII.

Habiranda adalah salah satu prestasi peninggalan HB VIII. Dalam sejarah Kasultanan Yogyakarta, masa pemerintah HB VIII (8 Februari 1921–22 Oktober 1939) memang dianggap sebagai salah satu masa keemasan Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat. Nama resmi sekolah Habiranda adalah “Pawiyatan Pedhalangan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Habiranda”. Sekolah ini  telah menelurkan banyak dalang berbakat dengan gagrag Ngayogyakarta. Kini kepala sekolah Habiranda adalah K.R.T. Cermo Widyokusumo. Sebenarnya, di Keraton Surakarta juga ada sekolah dalang. Namanya Marsudi Budaya. Namun, entah mengapa tidak banyak terdengar kiprahnya di tengah masyarakat luas sebagaimana  pawiyatan Habiranda.

Tidak seperti sekolah biasa, murid di Habiranda tidak dibatasi usia. Pesertanya pun berasal dari semua lapisan masyarakat. Siapa saja, asalkan punya minat terhadap dunia wayang boleh ikut.  Peserta juga tidak dipungut bayaran sekolah karena semuanya, meskipun terbatas, sudah ditanggung oleh Keraton Yogyakarta dan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengajar di Habiranda pun terdiri atas pegawai keraton dan pegawai negeri.  

Untuk menyelesaikan pendidikan di Habiranda secara utuh, siswa membutuhkan waktu 4 (empat) tahun. Tiap jenjang (Pemula A, Pemula B, Madya A, dan Madya B) ditempuh selama setahun. Biasanya siswa berguguran setelah jenjang makin tinggi dan pelajaran makin sulit. Ketika tulisan ini dibuat, jumlah siswa Habiranda untuk semua tingkatan antara 25 sampai dengan 30 orang. Karena tiap hari ada pelajaran dan juga tidak dipungut biaya, siswa yang tidak punya motivasi kuat mungkin akan kesulitan berdisiplin dalam belajar di Habiranda.

Setelah lulus pun, belum pasti dijamin peserta otomatis bisa menjadi dalang, apalagi banyak juga peserta yang ikut hanya karena suka wayang dan tidak mau menjadi dalang. Bagi mereka yang ingin menjadi dalang profesional, bukan Habiranda, melainkan masyarakat, pengalaman dan waktulah yang akan menentukan apakah seorang dapat menjadi seorang dalang yang berjaya di tengah masyarakat atau tidak.

Akan tetapi, setelah kesuksesan diraih, bukan hanya nama tenar, materi dan kesempatan keliling, bahkan mengajar di mancanegara pun dengan mudah dapat diraih. Meskipun demikian, kepopuleran seni tradisional wayang pun makin lama makin jauh dari masyarakat Jawa yang menjadi pendukungnya. Ia kalah bersaing dengan pentas dangdut ataupun organ tunggal yang kini menembus hampir semua wilayah dan lapisan masyarakat yang dahulu menjadi habitat komunitas pencinta wayang. Akibatnya, tidak banyak regenerasi dalam dunia pedalangan. Di Habiranda pun hampir semua muridnya berusia di atas tiga puluh lima tahun. Hanya satu terhitung yang masih menjadi siswa SMA atau berusia kira-kira 17 tahun. Tidak seperti kebanyakan pemuda seusianya yang lebih suka menghabiskan waktunya bermain PlayStation atau chatting di internet, dia lebih suka menekuni dunia yang sepi: dunia pewayangan.    

Sangiran-ku Sayang, Sangiran-ku Yang Malang

•Desember 9, 2007 • & Komentar

Kawasan situs Sangiran menjadi salah satu objek wisata ilmiah yang sangat menarik untuk kami kunjungi dalam rangka menambah wawasan kami sebagai guru bahasa Indonesia untuk orang asing. Kami, ibaratnya duta bangsa yang memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia sehingga selayaknya dan sepantasnya mengenal betul sejarah keberadaan manusia Indonesia. Konon, fosil nenek moyang manusia Indonesia ditemukan di Sangiran yang sudah ditetapkan sebagai warisan dunia No. 593 oleh Komite World Heritage UNESCO pada tahun 1996.

Dengan harapan besar untuk menggali sejarah nenek moyang sekaligus menyaksikan fosil manusia Pithecanthropus Erectus (manusia Jawa) dan binatang-binatang yang hidup pada Kala Pliosen Akhir hingga akhir Pleistosen Tengah, yaitu sekitar 2 juta tahun hingga 200.000 tahun yang lalu, kami menuju ke Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah yang kami tempuh selama kurang lebih tiga jam dari kota Jogja. Namun sayang, semangat itu menjadi pudar ketika melihat kondisi museum yang nampak tidak terawat dengan baik, meskipun bangunan baru sedang dalam proses pembangunan. Entah karena masih dalam perbaikan ataupun penambahan bangunan baru, kami merasa kecewa tidak menyaksikan banyak fosil-fosil yang katanya berjumlah 13.086 koleksi. Meskipun demikian, ada beberapa fosil yang bisa kami lihat sehingga bisa sedikit menghilangkan kekecewaan kami. Tidak ada penjelasan apa pun dari para petugas ataupun staf di sana mengenai situs bersejarah tersebut. Alasan yang mereka kemukakan adalah bahwa kami tidak memberitahukan kedatangan kami sebelumnya kepada mereka dan waktu telah menunjukkan pukul 14.00 WIB, sehingga tidak tersedia staf maupun petugas yang bisa menjelaskan.

Kami juga tidak diperkenankan untuk melihat lapisan-lapisan tanah ditemukannya fosil-fosil tersebut. Alasannya adalah karena konsidi lapangan yang becek dan melewati tanah pekarangan orang lain sehingga mengganggu privasi penduduk. Apapun alasannya, kami sangat kecewa dengan pihak museum. Seharusnya, kepada kami sebagai pengunjung disajikan informasi yang cukup mengenai koleksi yang dimiliki oleh museum yang nantinya akan kami bagikan kepada orang-orang dari mancanegara.

Namun, Sangiran masih menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi. Tempat yang menyimpan misteri manusia kera yang konon pernah mendiami pulau Jawa ini. Yang penting sekarang adalah bagaimana Pemda Jawa Tengah, terutama Bupati Sragen mengelola wilayah ini. Jadikanlah tempat yang telah menjadi warisan dunia sebagai obyek wisata ilmiah yang bisa dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Kami sebagai warga negara Indonesia berhak atas pengetahuan yang bernilai itu. Jangan sampai, kami belajar tentang sejarah nenek moyang kami sendiri dari negara lain.

Lebih jelasnya, Anda bisa mengunjungi website http://id.wikipedia.org/wiki/Sangiran.

Selamat Datang

•November 30, 2007 • 1 Komentar

Selamat datang di weblog kami. Ini menjadi tempat kami menulis tentang apa saja dari mulai kuliner, permainan anak-anak, bangunan, tempat hingga kepada pertunjukan tradisional yang kini mulai sedikit demi sedikit ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya. Kami tidak berbicara mengenai satu tempat, etnis, atau negara, tetapi semua kebudayaan tradisional yang ada di muka bumi ini.