Bagi mereka yang hidup di zaman wireless ini, mungkin banyak yang tidak mengenal apa itu Habiranda? Habiranda adalah sekolah. Lalu, sekolah macam apa? Yang jelas Habiranda bukan sekolah berasrama atau boarding school bertaraf internasional yang mulai banyak bertebaran di Indonesia, bukan pula sekolah online yang menawarkan gelar akademis melalui belajar jarak jauh atau distant learning. Habiranda adalah sekolah untuk para dalang yang dibuka oleh Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat pada tahun 1925 pada masa pemerintahan Hamengku Buwana VIII.
Habiranda adalah salah satu prestasi peninggalan HB VIII. Dalam sejarah Kasultanan Yogyakarta, masa pemerintah HB VIII (8 Februari 1921–22 Oktober 1939) memang dianggap sebagai salah satu masa keemasan Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat. Nama resmi sekolah Habiranda adalah “Pawiyatan Pedhalangan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Habiranda”. Sekolah ini telah menelurkan banyak dalang berbakat dengan gagrag Ngayogyakarta. Kini kepala sekolah Habiranda adalah K.R.T. Cermo Widyokusumo. Sebenarnya, di Keraton Surakarta juga ada sekolah dalang. Namanya Marsudi Budaya. Namun, entah mengapa tidak banyak terdengar kiprahnya di tengah masyarakat luas sebagaimana pawiyatan Habiranda.
Tidak seperti sekolah biasa, murid di Habiranda tidak dibatasi usia. Pesertanya pun berasal dari semua lapisan masyarakat. Siapa saja, asalkan punya minat terhadap dunia wayang boleh ikut. Peserta juga tidak dipungut bayaran sekolah karena semuanya, meskipun terbatas, sudah ditanggung oleh Keraton Yogyakarta dan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengajar di Habiranda pun terdiri atas pegawai keraton dan pegawai negeri.
Untuk menyelesaikan pendidikan di Habiranda secara utuh, siswa membutuhkan waktu 4 (empat) tahun. Tiap jenjang (Pemula A, Pemula B, Madya A, dan Madya B) ditempuh selama setahun. Biasanya siswa berguguran setelah jenjang makin tinggi dan pelajaran makin sulit. Ketika tulisan ini dibuat, jumlah siswa Habiranda untuk semua tingkatan antara 25 sampai dengan 30 orang. Karena tiap hari ada pelajaran dan juga tidak dipungut biaya, siswa yang tidak punya motivasi kuat mungkin akan kesulitan berdisiplin dalam belajar di Habiranda.
Setelah lulus pun, belum pasti dijamin peserta otomatis bisa menjadi dalang, apalagi banyak juga peserta yang ikut hanya karena suka wayang dan tidak mau menjadi dalang. Bagi mereka yang ingin menjadi dalang profesional, bukan Habiranda, melainkan masyarakat, pengalaman dan waktulah yang akan menentukan apakah seorang dapat menjadi seorang dalang yang berjaya di tengah masyarakat atau tidak.
Akan tetapi, setelah kesuksesan diraih, bukan hanya nama tenar, materi dan kesempatan keliling, bahkan mengajar di mancanegara pun dengan mudah dapat diraih. Meskipun demikian, kepopuleran seni tradisional wayang pun makin lama makin jauh dari masyarakat Jawa yang menjadi pendukungnya. Ia kalah bersaing dengan pentas dangdut ataupun organ tunggal yang kini menembus hampir semua wilayah dan lapisan masyarakat yang dahulu menjadi habitat komunitas pencinta wayang. Akibatnya, tidak banyak regenerasi dalam dunia pedalangan. Di Habiranda pun hampir semua muridnya berusia di atas tiga puluh lima tahun. Hanya satu terhitung yang masih menjadi siswa SMA atau berusia kira-kira 17 tahun. Tidak seperti kebanyakan pemuda seusianya yang lebih suka menghabiskan waktunya bermain PlayStation atau chatting di internet, dia lebih suka menekuni dunia yang sepi: dunia pewayangan.
